Sudahkah Kita Berbakti pada Orang Tua? (part 1)

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala pencipta alam semesta. Shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, nabi terakhilr yang merupakan suri tauladan, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. 



Tulisan ini diambil dari ceramah YouTube oleh Ustadz Syafiq Riza Basalamah dengan judul Kajian Penuh Tangis tentang Ibu, Kajian Ar-Rahman. Ada beberapa kisah yang saya rangkum sebagai berikut,


Kisah I
Kisah tentang seorang dokter yang memiliki pasien wanita gila.
Datang seorang pemuda belum menikah membawa ibunya periksa. Saat masuk keruangan dokter, ibu tersenyum sendiri, tertawa sendiri, meja dokter diputar-putar olehnya. Ada gambar ka’bah di ruangan dokter, lalu ibu tersebut bilang, “Mat, kau bohong! Katanya Ibu mau diajak umroh”, sambil diludahi kemudian digigit anaknya. Berbagai macam tingkah ibu sampai kerudungnya lepas kemudian dipasang kembali oleh anaknya. Pemuda tersebut sabar dan meminta maaf kepada dokter atas perilaku ibunya. 
Dokter bertanya, “Ini siapa?
Ibu saya.”, jawab pemuda.
Sejak kapan dia seperti ini?
Sejak lahir.
Lalu bagaimana kamu bisa lahir?
Kakek saya menikahkan Ibu, tetapi saat sepuluh bulan, Ibu diceraikan karena kondisinya. Kemudian saya lahir.
Dan seperti ini perilaku ibumu sepanjang hidupnya?
Iya.
Kamu berbakti pada dia?
Iya.
Dia kan tidak kenal denganmu.
Iya, dia tidak kenal dengan saya, tapi Allah tahu dia adalah ibu saya. Jadi saya harus berbakti padanya.
Mendengar jawaban pemuda, dokter berhenti bertanya tentang ibunya dan mulai memeriksa. Setelah diberikan resep, ibu dan pemuda tersebut keluar. Dokter menutup pintu ruangannya lalu menangis. Dokter sering mendengar ceramah tentang birrul walidain, tapi baru sekarang dia melihat kebaktian seorang anak kepada orang tuanya yang menyentuh hati.



Kisah II

Peristiwa ini terjadi pada zaman Bani Israil, jauh sebelum diutusnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengisahkannya kepada kita berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
Ada tiga orang masuk dalam gua kemudian jatuh sebuah batu besar dan menutupi mulut gua. Ketiga orang tersebut bertawassul dengan amal mereka untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dapat keluar dari gua.  
Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai ibu bapak yang sudah tua renta, seorang istri, dan anak-anak yang masih kecil. Setiap hari aku menggembalakan ternak lalu sorenya setelah pulang aku perahkan susu untuk kedua orang tuaku terlebih dahulu kemudian istri dan anakku. Suatu hari ternak gembalaku membawaku terlalu jauh mencari rumput. Sehingga saat aku pulang dan aku perahkan susu untuk ibu bapakku, mereka sudah tidur. Lalu aku berdiri disamping tempat tidur mereka. Aku tidak suka memberikan susu kepada anak-anakku sebelum ibu bapakku meminumnya. Anak-anakku menangis di bawah kakiku meminta susu karena lapar, aku biarkan. Seperti itulah keadaanku sampai subuh. Maka kalau Engkau tahu, aku melakukan hal itu karena mengharapkan wajah-Mu, bukakanlah satu celah untuk kami dari batu ini agar kami melihat langit.  
Sebenarnya dia sudah berbakti kepada orang tuanya dengan cara menaruh susu di meja sebelah orang tuanya tidur. Namun tidak dia lakukan. Dia kuat berdiri memegang susu di hadapan orang tuanya yang sedang tidur dari malam hingga subuh karena Allah yang menyuruhnya berbakti kepada orang tua.
Lihatnya bagaimana seorang laki-laki yang berbakti kepada orang tuanya karena perintah Allah. Kadang kala ada seorang lelaki setelah menikah lebih peduli pada istri dan anaknya. Seorang suami lebih sering membawa oleh-oleh untuk istri dan anaknya. Pernahkah menanyakan kepada ibu bapakmu, apa yang mereka butuhkan? Apa yang mereka inginkan? Tidak ada hadist yang mengatakan anak pintu surga, yang ada adalah orang tua pintu surga.


Kisah III
Ada seorang sahabat ijin ingin berjihad kapada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia ingin mendapatkan surga yang paling tinggi. Dia ingin dapat memberi syafaat pada tujuh puluh keluarganya jika dia mati syahid. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah ibu dan bapakmu masih hidup?
Iya.”, jawab sahabat.
Pulanglah ke ibu dan bapakmu. Di sana ada surga.


Kisah IV
Pada masa Umar Bin Khattab Radhiallahu’anhu, ada seseorang yang datang kepadanya berkata, “Ya Amirul Mukminin, aku telah menjadi kendaraan ibuku. Aku yang membersihkan kotoran ibuku dan aku palingkan wajahku kepadanya. Aku menyuapinya makanan. Ibuku sudah lumpuh tidak bisa apa-apa. Dan aku berusaha berbakti kepadanya. Lalu bagaimana menurutmu, apakah aku telah membalas kebaikan ibuku?”
Belum”, kata Umar Bin Khattab Radhiallahu’anhu.
Ya Amirul Mukminin, bukankah aku sekarang ini telah berbuat kepada ibuku seperti ibuku berbuat kepadaku saat aku masih kecil? Aku berusaha melakukan semua yang dilakukan ibuku saat aku masih kecil.”
Tidak sama. Ibumu saat merawatmu ketika masih kecil berharap kau hidup. Sedangkan kau sekarang merawat ibumu yang sudah tua dan sakit-sakitan berharap ibumu mati.”
~ ~ ~
Ibu saat hamil dalam kondisi yang sulit. Kita mengganggu hidup Ibu sejak kita ada dalam kandungan. Ada ibu yang harus muntah-muntah. Dimuntahkan semua makanan yang dia makan sampai dia merasa lemas.
Ada ibu yang harus bedrest demi kita lahir. Capek sedikit keluar darah. Tidurpun tidak enak, tidak nyaman. Tapi dia tetap menjaga kita saat di dalam perutnya. Dia tidak bisa melakukan hal yang dia senangi demi kita bertahan di dalam perutnya.
Seorang Ibu melahirkan dalam keadaan yang sulit. Kadang kala perut ibu disobek demi kita keluar. Kita meninggalkan luka di tubuh Ibu. Kalau kita anak ketiga, bayangkan berapa kali dibelah perut Ibu. Tubuhnya menjadi jelek karena kita. Tapi Ibu tidak peduli, yang penting kita lahir selamat. Kalau Ibu dikasih pilihan antara Ibu atau anaknya yang harus selamat, pasti semua Ibu memilih menyelamatkan anaknya. Berapa banyak ibu yang meninggal dunia ketika dia melahirkan anak. Begitu besar cinta Ibu kepada anak yang belum pernah dia jumpai. 

Waktu hamil dan menyusui adalah tiga puluh bulan. Artinya bukan setelah kita lahir kemudian lelahnya Ibu selesai, melainkan lelah Ibu masih berlanjut untuk membesarkan kita. Tapi, saat kita lahir, Ibu lupa akan lelahnya mengandung, sakitnya melahirkan, dia tersenyum memandang wajah kecil kita sambil menggendong kita. Kalaupun ada air mata ibu yang menetes, pastilah air mata kebahagiaan hadirnya kita di dunia.  

https://www.youtube.com/watch?v=QKO27t9kni8&t=842s

Komentar

Postingan populer dari blog ini