Sudahkah Kita Berbakti pada Orang Tua? (part 2)
Bismillahirrahmanirrahim
Saya sempat
mengandung selama dua bulan pada tahun 2018. Qodarullahi wa maa syaa-a
fa'ala. Ini takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Janin
yang saya kandung tidak berkembang dan harus ada tindakan kuretase. Selama dua
bulan menjadi calon Ibu rasanya bahagia sekali. Begitu menjaga dan menyayangi
si janin super kecil dalam perut. Lalu berapa berapa besar sayangnya Ibu kepada
saya setelah saya umur 27 tahun? Saya semakin mengerti sayang Ibu, pengorbanan
Ibu setelah saya menjadi calon Ibu. Ibu tidak pernah mengeluh capek mengurus
saya. Bahkan saya sudah sebesar ini dan sudah berkeluarga, ketika harus bedrest
karena keguguran yang kedua kali sebulan yang lalu, beliau tetap dengan kasih
merawat saya.
Kalau
mengingat-ingat, menghitung-hitung kebaikan orang tua kepada kita, kita tidak
akan sanggup menampungnya karena begitu banyaknya. Lalu apakah kita sudah
berbakti pada mereka?
Kalau
mengingat-ingat, menghitung-hitung apa yang sudah saya balas, saya masih belum
merasa membalas apa-apa. Saya belum memberi apa-apa pada mereka.
Sekarang saya
sudah menikah, bakti saya adalah kepada suami. Bukan berarti saya melupakan
bakti pada orang tua. Malahan saya memiliki dua orang tua lengkap.
Alhamdulillah.
![]() |
| Gambar pribadi |
Bagi sebagian
pasangan baru hal yang paling berat adalah adaptasi dengan keluarga baru. Menikah
itu bukan hanya menikah dengan suami, menerima suami. Menikah berarti menerima
apapun dari suami. Sifatnya, kelebihannya, kekurangannya, ibunya, bapaknya,
kakaknya, adiknya, tantenya, keponakannya, semuanya dan tidak ada satupun
darinya yang dapat kita tolak.
Banyak
bersyukur kepada Allah jika mendapat suami yang selalu mendampingi saat masa
adaptasi (Alhamdulillah seperti saya). Banyak bersyukur kepada Allah jika suami
berbakti kepada orang tuanya. Karena dia pasti juga membantu kita berbakti pada
orang tua kita.
Pasangan baru,
kehidupan baru. Sebagai istri harus menaati suami. Akan terjadi pertengkaran
pasangan jika pasangan kurang berkomunikasi tentang berbagi waktu. Istri cemburu
pada Ibu mertua atau suami cemburu pada keponakan istri. Jangan menghitung
waktu untuk adil. Karena kita tidak bisa menentukan waktu, menakar waktu. Ada
kala lebih melihat prioritas dari pada waktu. Sabar dan ikhlas kuncinya. Di saat
ini saya masih belajar. Selalu menanamkan kata-kata sedalam-dalamnya pada hati:
“Suamimu milik ibunya, suamimu milik
Allah yang hanya dititipkan padamu.” Dengan mengingat itu rasa ingin
menguasai suami bisa dikendalikan. Sabar dan ikhlas kuncinya. Lalukan kewajiban-kewajiban
istri, penuhi hak-hak suami, berharap mendapat rahmat Allah. Kita dinikahi oleh
suami karena dia dilahirkan oleh ibunya. Kita mendapat kebaikan suami
karena dia dirawat dan dididik dengan baik oleh ibunya. Lalu butuh alasan
apalagi untuk tidak berbakti juga pada ibu dan bapak suami?
Terkadang ada
seorang istri yang bahagia mendapatkan sosok suami yang baik. Suaminya selalu
membawakan oleh-oleh, waktunya habis untuk berlibur dengan anak dan istri,
waktunya habis untuk mencari nafkah. Istri lupa bahwa suaminya bukan miliknya. Tetapi
milik ibunya. Istri lupa ada Ibu yang mengharapkan kehadiran anaknya, yaitu
suami kita. Tahan ego, komunikasikan sebaik-baiknya, saling membantu antar suami istri untuk bisa berbakti
kepada orang tua. Hadiahnya surga InsyaAllah. Tapi para suami juga jangan lupa pada hak-hak istri yaa? hehehe~

Komentar
Posting Komentar